Profil Desa Api-Api

Informasi Profil dan Visi Misi Desa

Tentang Kami
Secara administrasi wilayah Desa Api-Api terdiri dari 16 RT dan 6 RW, yang meliputi 3 Dukuh (Dusun) terdiri dari Dusun Pagedangan, Dadaptulak, dan Dusun Api-Api. Dengan jumlah rumah sebanyak 1008 unit dan Jumlah penduduk Desa Api-Api sebanyak 4.168 jiwa (data monografi Desa Api-Api tahun 2025) dengan perincian jumlah laki-laki sebanyak 2.152 orang dan perempuan sebanyak 2.016 orang, Jumlah Keluarga 1.384 KK, dengan kondisi Geografis Daerah Dataran Rendah (Pantai).
Menurut cerita orang tua dahulu nama tiga dukuh tersebut diambil dari sebutan pohon/tanaman/alas yang tumbuh di wilayah masing-masing dukuh. Dukuh Api-Api (yang sekaligus mewakili nama Desa Api-Api) diambil dari salah satu jenis pohon mangrove, yaitu Mangrove si-Api-api (AVICENA Mangrove) yang tumbuh di wilayah dukuh tersebut. Hampir di setiap dukuh banyak ditumbuhi pohon tersebut. Namun lebih banyak di Dukuh Api-Api yang secara geografis wilayahnya banyak terdapat endapan pasir sebagai tempat hidup pohon si-Api-api. Dukuh Dadaptulak diambil dari kata Dadap yang artinya bintik putih yang menempel pada daun dan Tulak (menolak). Konon dahulu di dukuh ini banyak ditumbuhi pepohonan dan rerumputan yang dedaunnya banyak didapati bintik-bintik putih. Daun-daun yang ada dadapnya ini dipercaya sebagai penolak keburukan, sehingga dengan kata lain akan mendatangkan kebaikan dan keberuntungan. Dukuh Pagedangan diambil dari kata Gedang yang artinya pisang. Di dukuh ini dahulu banyak dijumpai pohon-pohon pisang. Karena dahulu desa ini masih berbentuk alas/hutan yang penuh pepohonan sehingga saat babat alas setiap masing-masing dukuh penamaannya diambilkan sesuai pepohonan yang ada saat itu.
Sebagai tambahan, dahulu ada dua tokoh wali yang dipercayai sebagai petilasan babad alasnya Desa Api-Api, yaitu Syekh Maulana Nur Baihaqqi dan Syekh Maulana Abdul Ghoni. Hal itu dibuktikan dengan adanya dua makam yang ada di Desa Api-Api. Namun sekarang makam tersebut sudah tenggelam oleh air dan tertimbun tanah saat dilakukan peninggian makam. Meski riwayat ceritanya masih anonym dari mulut ke mulut turun temurun. Sebelumnya desa Api-api masuk ke dalam wilayah Kecamatan Wiradesa, namun setelah pemekaran wilayah Kabupaten Pekalongan pada tahun 2001, kecamatan yang semula berjumlah 16, kini menjadi 19 kecamatan. Terdapat tiga kecamatan yang mengalami pemekaran, antara lain: Kecamatan Wiradesa yang kemudian memunculkan wilayah Wonokerto, Kecamatan Sragi memekarkan kecamatan Siwalan dan Kecamatan Kedungwuni yang memekarkan Karangdadap.
Mayoritas penduduk Api-Api bekerja di sektor perikanan, baik berprofesi sebagai nelayan lepas, ABK, nahkoda, petambak, buruh tani tambak, pengolah, pemasar dan pedagang ikan dan sisanya profesi lainnya. Oleh karena itu desa ini memiliki Pasar Ikan atau yang biasa disebut oleh masyarakat estempat dengan istilah PASAR POJOK. Luas lahan tambak untuk budidaya adalah sebesar 114,370 ha. Komoditas unggulan di desa ini adalah Bandeng dengan hasil yang dipasarkan sampai di kabupaten lain. Sebelum terkena dampak air rob (sekitar tahun 2006), ada tambak udang windu, kebun tanaman produktif (manga dan jambu), pantai asri api-api dan kebun melati pesisir, persawahan (padi, polo pendem dan tebu). Sebagian besar kondisi sumber daya pesisir Desa Api-api dimanfaatkan sebagai lahan budidaya tambak bandeng dan udang. Sehingga ikon desa ini adalah mascot udang dan bandeng. TPI Ikan darat dan Pasar Ikan yang selalu ramai di setiap pagi ikut melabeli desa Api-api sebagai pusatnya jual beli ikan di kabupaten pekalongan dan sekitarnya. Banyak pembeli dan pedagang-pedagang ikan dari pekalongan maupun luar pekalongan yang berdatangan ke Desa Api-Api untuk mencari ikan.
Visi
"MEMBANGUN DESA CERDAS, SEHAT, RELIGIUS, BERMARTABAT DAN SEJAHTERA"
Misi
Kembali ke Beranda